- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
- Hendry Munief Dorong Pengusaha Muslimah Kembangkan Sektor UMKM dan Ekraf
- Reskrim Polsek Tebing Tinggi Amankan Pelaku Pencurian di Ruko Jalan Tanjung Harapan
Ramai-ramai Pabrikan Otomotif Global Tekan Rusia

LADA merupakan merek otomotif kebanggaan warga Rusia.
Jakarta, VokalOnline.Com - Sejumlah pabrikan otomotif memberikan sanksi kepada Rusia yang terus menggempur Ukraina. Sanksi yaJakarta, VokalOnline.Com - Sejumlah pabrikan otomotif memberikan sanksi kepada Rusia yang terus menggempur Ukraina. Sanksi yang diberikan beragam mulai tutup dealer hingga setop ekspor mobil ke negara itu.
Perusahaan otomotif General Motors contohnya. Merek otomotif asal Amerika Serikat itu bergabung dengan sejumlah perusahaan lain untuk memutuskan bisnisnya dengan Rusia.
Produsen mobil yang berbasis di Detroit itu mengumumkan pada hari Jumat bahwa pihaknya menghentikan semua ekspor ke Rusia yang sedang "sibuk" menginvasi Ukraina melansir CNN, Selasa (1/3).
Menurut perusahaan, menghentikan ekspor ke Rusia bukan masalah besar. GM hanya menjual sekitar 3.000 kendaraan per tahun di Rusia melalui 16 lokasi dealer di sana, menurut juru bicara GM.
Angka tersebut relatif kecil bila dibandingkan dengan pencapaian 6 juta kendaraan berhasil dijual setiap tahun di dunia. GM saat ini tidak memiliki fasilitas manufaktur di Rusia, sehingga sebagian besar kendaraan yang dijual di sana diimpor dari pabrik AS, sementara beberapa didatangkan dari Korea Selatan. Di satu sisi perusahaan otomotif Eropa seperti Renault, Volkswagen berpotensi memberikan tekanan ke Rusia.
Produsen mobil Prancis, Renault, menghasilkan 8 persen dari pendapatan intinya di Rusia, menurut laporan Citibank. Mereka juga memiliki 69 persen saham di perusahaan patungan Rusia Avtovaz yang menaungi merek mobil Lada dan menjual lebih dari 90 persen produksi mobil untuk pasar domestik Rusia.
Renault Prancis mengatakan akan menangguhkan operasional di pabrik perakitan mobil di Rusia pada pekan depan karena masalah suku cadang yang disebabkan kontrol perbatasan yang lebih ketat imbas invasi itu.
Sedangkan Volkswagen punya dua pabrik yang memperkerjakan 4.000 karyawan di Rusia. Pusat manufaktur itu mampu memproduksi 170.000 mobil di Rusia pada 2021. Sementara pabrikan Jepang seperti Mitsubishi dan Toyota juga potensi memberikan sanksi kepada Rusia.
Mitsubishi disebut memiliki 141 jaringan dealer di Rusia. Perusahaan ini juga memiliki saham di beberapa proyek pengembangan gas dan minyak Sakhalin II untuk menyuplai gas alam cair (LNG), batu bara, aluminium, nikel, batu bara, metanol, plastik dan bahan lainnya ke Jepang.
Raksasa otomotif global Toyota punya pabrik yang memproduksi Camry dan RAV4 di Saint Petersburg. Pabrik tersebut telah memperkerjakan 2.600 karyawan, mengutip Reuters.**vol/jn
Berita Terkait :
- Sirene Serangan Udara Rusia Meraung di Sejumlah Kota Ukraina0
- AC Milan Mulai Rasakan Fase Krusial Seri A0
- WHO: Indonesia Ditunjuk sebagai Penerima Transfer Teknologi Pembuatan Vaksin mRNA0
- Google Blokir Media Rusia dari Penghasilan Iklan YouTube 0
- Presiden Ukraina Umumkan Bersedia Negosiasi Damai dengan Rusia0
_Black11.png)









