- Bupati Asmar Buka Festival Lari di Atas Tual Sagu, Tradisi Unik Meranti Didorong Jadi Potensi Budaya
- Syahrul Aidi Apresiasi Walkout Indonesia Saat Netanyahu Hadir di Sidang Umum PBB
- Hendry Munief Dukung Pembentukan Politeknik Teknologi Modern Indonesia di Riau
- Ketua BKSAP DPR RI Kecam Pengangkatan Isu West Papua di UNGA PBB
- PT Mahakarya Kayu Indah Buka Kemitraan
- Panitia Matangkan Persiapan Sirkuit FORKI Riau Open Karate Kid Serie 3
- Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh HPN 2027
- Komisi VII DPR RI Soroti Efisiensi dan Dampak Ekonomi Kawasan Industri
- Hanya Pakai BPJS RS Zainab Selamatkan Nyawa Keluarga Besar JMSI Riau
- Air Mata Haru di Tanah Suci, Perhatian dari Pemko Pekanbaru untuk Jemaah Haji
Roda Ekonomi Berputar, Harga Minyak Dunia Merangkak

(kompasmoney)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat satu persen pada perdagangan Selasa (6/4) waktu setempat. Harga minyak terangkat data ekonomi yang mulai menunjukkan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan China.
Mengutip Antara, Rabu (7/4), harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Mei naik 1,2 persen menjadi US$59,33 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni terapresiasi 1 persen menjadi US$62,74 per barel di London ICE Futures Exchange.Harga minyak menguat usai data menunjukkan aktivitas jasa AS menyentuh rekor tertinggi pada Maret. Penjualan sektor jasa China juga meningkat paling tajam selama tiga bulan terakhir.
Selain itu, Inggris berencana melonggarkan lebih banyak pembatasan pada 12 April mendatang, memungkinkan bisnis, termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat rekreasi luar ruangan akan dibuka kembali.
Di sisi lain, OPEC+ setuju untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350 ribu barel per hari (bph) pada Mei, 350 ribu barel per hari pada Juni dan lebih lanjut 400 ribu barel per hari atau lebih pada Juli."Meskipun OPEC+ bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri, meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan selama tiga bulan ke depan, pasar sekarang memberi isyarat tidak masalah," ungkap Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melansir di Amerika Serikat, produksi minyak diperkirakan turun 270 ribu bph pada 2021 menjadi 11,04 juta bph. Penurunan produksi ini lebih tajam dari perkiraan bulanan sebelumnya, yaitu 160 ribu bph.
(wel/bir)
Berita Terkait :
- THR PNS Akan Cair Tanpa Potongan 0
- Harga Emas Antam Hari ini, Turun ke Rp.920 Ribu0
- Bank Sentral Jepang Mulai Eksperimen Penerbitan Uang Digital 0
- Baru 2,97 Persen Tenaker Pariwisata yang Divaksin Covid-190
- Laju IHSG Diprediksi Menguat, Tapi Terbatas 0
_Black11.png)









