- Sindikat Narkoba Lintas Negara Dibekuk di Meranti, Polda Riau Sita 27 Kg Sabu
- Wawako Pekanbaru Markarius Anwar Tekankan Pentingnya Sinergi di ASWAKADA 2026
- Angggota DPR RI Hendry Munief Berikan Catatan Penting saat Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau
- Pertandingan Tinju Menambah Semarak Hari Jadi Kota Dumai ke 27
- Kontribusi Besar Alih Daya PDC dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Energi Bagi Negeri
- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
Seberapa Kuat Hamas Bertahan Melawan Gempuran Israel di Gaza?

Menakar kekuatan Hamas melawan gempuran Israel. (REUTERS/MOHAMMED SALEM)
Jakarta, VokalOnline.Com - Hari ini tepat sebulan perang Hamas dengan Israel berlangsung sejak Sabtu (7/10) dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dalam waktu dekat.
Israel semakin memperkuat serangan bomnya ke Gaza yang telah menewaskan lebih dari 10.000 warga. Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir mengatakan negaranya memperkuat persenjataan karena banyak warga menuntut permohonan membawa senjata pribadi.
Serbuan Israel ke Gaza tidak membuat Hamas gentar menghentikan perang. Diperkirakan saat ini Hamas masih menahan 240 orang sandera.
Hamas menyatakan perang dengan Israel saat meluncurkan 2.000 roket ke Israel awal Oktober lalu. Lebih dari seribu tentara Hamas, beberapa menggunakan pesawat layang bermotor, melintasi perbatasan antara Israel dan Gaza, dikutip dari The Economist.
Dalam kurun waktu 48 jam, Hamas berhasil membunuh lebih dari 900 warga dan menyandera 150 warga Israel dengan menyerang desa-desa kecil.
Hamas didirikan pada 14 Desember 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin selama intifada pertama saat Palestina perang melawan Israel di Gaza dan Tepi Barat. Pada awal pembentukannya, arah gerakan Hamas untuk membebaskan Palestina dari Israel.
Hamas melakukan penyerangan pertamanya ke Israel pada 1989 dan melakukan beberapa aksi bom bunuh diri. Selama ini, Iran dituduh menyokong Hamas dengan persenjataan, dana, dan pelatihan militer. Hal ini mendukung Hamas untuk melakukan operasi militer besar-besaran.
Iran kerap membantah tudingan bahwa negara itu memberi sokongan kepada Hamas.
Hamas terus mengembangkan kemampuan militer dan persenjataannya dalam beberapa tahun ini. Dilansir dari Deutsche Welle, Hamas membangun terowongan yang menghubungkan wilayah Israel dan Mesir.
Pembangunan terowongan ini bertujuan untuk menyulitkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melacak keberadaan Hamas.
Pada 2021, Hamas mampu menyerang Israel dengan 4.000 roket dalam kurun 11 hari. Berbagai sumber menyebutkan bahwa Hamas memiliki pasukan bersenjata antara 7.000 sampai 50.000 orang.
Hamas mempunyai pelatihan atau akademi militer, termasuk terkait keamanan siber yang beranggotakan lebih dari 40.000 orang.
Milisi Palestina itu memiliki persenjataan canggih dalam bentuk roket rakitan, mortir, rudal anti-tank, rudal anti-pesawat, dan bahan peledak lainnya.
Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, mengaku memproduksi roket lokal dan mengimpor roket jarak jauh dari Iran, Suriah, serta Mesir.
Hamas disebut-sebut menggunakan jaringan pembiayaan global untuk menyalurkan dukungan dari badan amal atau negara yang bersekutu, dikutip dari Reuters.
Hamas dikabarkan menggunakan mata uang crypto untuk menyalurkan dana ke Gaza demi menghindari sanksi internasional.(fit)**
Berita Terkait :
- DK PBB Gelar Rapat Hari Ini agar Israel Setop Gempur Gaza0
- PM Anwar Ibrahim Bertemu Erdogan, Bahas Palestina Sampai 2 Jam0
- Bantuan dari Mesir Masuk Jalur Gaza, AS Desak Perbatasan Tetap Terbuka0
- Perang vs Hamas Memanas, Israel Bombardir Masjid Tepi Barat Palestina0
- Sekjen PBB soal Perang Hamas vs Israel: Perang Juga Punya Aturan0
_Black11.png)









