- Sumpah Pemuda ke-98, Polres Inhu Ajak Generasi Muda Pantang Menyerah dan Peduli Sesama
- Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Kuala Cenaku Kunjungi Petani Cabai di Inhu
- Coming Soon Pekan Raya Biologi 2027 \"SAINTIS MUDA, CERDAS BERKARYA\"
- Sembilan Bulan Mengendap, MKD DPR RI Diminta Tegas Sikapi Laporan
- Raih 54 Mendali Dari MIS OPEN 2026 Medan
- Publik Berhak Tahu! Siti Aisyah Soroti Pembukaan Kembali Enam PKS di Kuansing
- Dojo Tirex Pekanbaru Raih Juara Umum 1 Kejuaraan Karate GDR Open Championship se-Riau
- Dari Rohil untuk Dunia Kerja, Politeknik Mulia Rokan Kantongi Izin Pendirian
- Anggota DPR RI Dapil Riau-1 Hendry Munief Terima Silaturahmi Himpunan Siompu Kampar Riau
- Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2026
AS Dakwa 2 Warga Diduga Selundupkan Materi Senjata Nuklir untuk Putin
Jakarta, VokalOnline.Com - Amerika Serikat melayangkan 16 dakwaan terhadap dua warganya dan lima warga Rusia diduga berkonspirasi membantu menyelundupkan barang-barang sensitif seperti perangkat elektronik untuk Kremlin.
Perangkat elektronik yang diselundupkan itu diduga bisa digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir, hipersonik, komputasi kuantum, dan aplikasi militer lainnya.Selain penyelundupan barang, ketujuh individu itu juga diyakini membantu praktik pencucian uang global yang dilakukan pemerintahan Presiden Vladimir Putin.Dua warga AS itu ialah Alexey Brayman (35) dari New Hampshire dan Vadim Yermolenko (41) dari New Jersey. Sementara itu, lima warga Rusia terdiri dari Yevgeniy Grinin (44), Aleksey Ippolitov (57), dan Svetlana Skvortsova (41) dari Moskow. Ada Boris Livshits (52) dan Vadim Konoshchenok (48) dari St. Petersburg.Kementerian Kehakiman AS menuturkan Konoshcheno merupakan seorang staf badan intelijen Rusia, Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB).Surat dakwaan AS menduga para terdakwa mengekspor komponen elektronik yang sangat sensitif secara ilegal dan sangat sistematis. Komponen-komponen sensitif itu disebut dapat digunakan dalam mengembangkan senjata nuklir dan hipersonik, komputasi kuantum, dan aplikasi militer lainnya.Para terdakwa juga disebut bersekongkol memperoleh teknologi militer dan barang elektronik dengan nilai manfaat ganda dari perusahaan AS untuk sektor pertahanan Rusia. Barang elektronik dengan nilai manfaat ganda itu berarti barang tersebut bisa digunakan untuk keperluan sipil maupun militer.Ketujuh individu itu juga disebut membantu menyelundupkan amunisi senapan sniper yang merupakan bentuk pelanggaran atas sanksi baru AS yang dijatuhkan ke Rusia awal 2022 imbas invasi di Ukraina.Aparat AS telah menahan Brayman dan Yermolenko selama beberapa waktu terakhir. Sementara itu, Konoshcheno ditangkap di Estonia pada 6 Desember lalu dan akan menjalani proses ekstradisi ke AS.Konoshchenok disebut mengirim atau menyelundupkan barang-barang sensitif itu dari AS ke Rusia melalui Estonia. Beberapa barang yang sering ia selundupkan yakni amunisi taktis tingkat militer dan barang elektronik dengan manfaat ganda.Sementara itu, Grinin, Ippol, Livshits, dan Skvortsova sampai saat ini masih jadi buronan AS, dikutip Reuters.Para terdakwa juga dituduh berafiliasi dengan Serniya Engineering dan Sertal LLC, perusahaan yang berbasis di Moskow dan beroperasi di bawah arahan dinas intelijen Rusia.Akibat kasus ini, Kementerian Perdagangan AS telah menangguhkan sementara hak ekspor terhadap tiga orang dan perusahaan menyusul pengiriman "barang sensitif" secara ilegal ke Rusia. **Syafira
Berita Terkait :
- Kronologi Guru AS Dipecat usai Langkahi Siswa Salat dan Cap Penyihir 0
- Belarus Inspeksi Militer untuk Latihan Siaga Tempur 0
- Tak Peduli Konflik, Warga Aljazair ke Qatar Bela Maroko di Piala Dunia 0
- Polri Akan Limpahkan 2 Tersangka Korupsi Anak Usaha Jakpro ke Kejagung0
- Sempat Jadi Kontributor TVRI, Iptu Umbaran Jalankan Tugas Intelijen 0
_Black11.png)








