- Sikat Pengedar, Selamatkan Pelajar: Polsek Tempuling, Satu Informasi Warga Bisa Hancurkan Narkoba
- Kejari Meranti Bebasakan Tersangka Dalam Kasus Restorative Justice
- Wakapolda Riau Ungkap Jaringan Internasional di Polres Meranti Narkotika Jenis Sabu 27 Kilogram
- Wabup Muzamil Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tegaskan Pendidikan Bermutu untuk Semua
- Peringatan May Day di Selatpanjang Berlangsung Kondusif, Buruh Deklarasi Dukung Kamtibmas
- Hari Kebebasan Pers Dunia: Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa
- Selain Gandeng Meta, Anggota DPR Hendry Munief Minta Kemenekraf Gandeng Aplikator Lainnya
- Tak Mau Jadi Penonton, Pemuda Lirik Siap Ambil Peran di Sektor Migas
- Polres Inhil Ungkap Kasus Narkotika di Hotel Grand Tembilahan, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Indragiri Hilir Gelar Apel Gabungan Peringati Hari Buruh sedunia 2026
Jaksa Tuntut Mati Tahanan Rutan Pengendali 5 Kilogram Sabu

Barang bukti narkoba jenis sabu. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Tahanan yang mengendalikan peredaran 5 kilogram sabu dari Rutan Bengkalis, Apriadi, dituntut hukuman mati di Pengadilan Negeri Pelalawan. Tuntutan mati ini disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Selasa petang, 30 November 2021.
Dalam amar tuntutannya, JPU menilai Apriadi sebagai bandar yang mengendalikan tiga terdakwa lainnya, Ardian Desri Jaya, Syawal dan Zamhur. Ketiga nama tersebut dituntut hukuman penjara selama 16 tahun.
Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Pelalawan Riki Saputra menjelaskan, terdakwa Apriadi terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
"Hal itu sesuai dengan Dakwaan Primair Penuntut Umum," kata Riki Saputra.
Untuk tiga terdakwa lainnya, selain penjara 16 tahun, mereka juga diwajibkan membayar denda masing-masing sejumlah Rp3 miliar subsidair. Jika tidak dibayar ketiganya wajib menjalani kurungan selama 6 bulan penjara.
Riki menerangkan, tuntutan tersebut didasarkan pada fakta persidangan dan pertimbangan bahwa perbuatan para terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika. Para terdakwa, kata dia, dalam melakukan transaksi narkotika dilakukan secara terorganisir dan rapi.
"Terdakwa Apriadi berperan sebagai bandar, sementara Ardian Desri Jaya, Syawal dan Zamhur berperan sebagai kurir dan terlibat langsung dengan jaringan internasional," terang Riki.
"Khusus untuk terdakwa Apriadi pada saat melakukan perbuatan tersebut, dia masih menjalani proses persidangan dalam perkara yang sama, yaitu tindak pidana narkotika, perkaranya masih proses upaya hukum di Mahkamah Agung," sambung Riki.
Setelah tuntutan ini, para terdakwa diberikan kesempatan menyampaikan pembelaan atau pledoi pada sidang berikutnya. Sidang akan digelar secara online mengingat pandemi Covid-19.
Sebagai informasi, para terdakwa ditangkap Polda Riau karena mengedarkan 5 kilogram sabu. Apriadi yang saat itu masih di penjara menghubungi Ardi, Syawal dan Zamhur untuk menjemput sabu ke pelabuhan di Tanjung Buton, Siak pada 15 April 2021.
Apriadi mentransfer uang Rp3 juta ke ketiga terdakwa untuk merental mobil. Mereka menemui Baron yang saat ini masih buron dan diberikan satu kantong plastik warna merah berisi sabu 5 kilogram.
Setelah itu, Apriadi memerintahkan ketiga terdakwa menuju Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan. Setibanya di sana, mereka kemudian disuruh lanjut ke Rengat, Indragiri Hulu tapi sebelum itu mereka mereka mengisi benai di SPBU Sorek, Kecamatan Bandar Petalangan.
Ternyata para pelaku telah dimonitor tim Polda Riau dan menangkap mereka bersama barang bukti tersebut tanpa perlawanan. (syu)
Berita Terkait :
- Penyerangan Rumah Dinas Wakil Ketua DPRD dan Kisruh Musda Demokrat Riau0
- Saat Jaksa Betulan Tangkap Jaksa Gadungan di Rupat Bengkalis0
- Pesantren Abdurrab Mendadak Jadi Lokasi Isolasi Terpadu0
- Polda Riau Tangkap Penyerang Rumah Dinas Agung Nugroho0
- Rumah Dinas Wakil Ketua DPRD Riau Diserang Preman0
_Black11.png)









