- Dukung Program MBG, SPPG Pematang Reba 02 Ikuti Peresmian Serentak 980 SPPG
- 320 Posyandu Diperkuat, RAPP Bekali Ribuan Kader dengan Edukasi Kesehatan dan Gizi di Riau
- Merawat Silaturahmi, Menguatkan Kontribusi: IKA Unri RAPP Punya Nahkoda Baru
- Alam Cahayo Tuah Nagoghi dan Sari Jadi Gementar Alam Melaju ke Final Pacu Jalur 2026
- Dari Konflik Menuju Kolaborasi, RAPP dan Petani Beruk Sepakati Pengelolaan Lahan yang Kondusif
- Cegah Kabut Asap Makin Tebal Polsek Tebing Tinggi Bagikan Masker kepada Masyarakat
- Tradisi Penghormatan Polri, Welcome and Farewell Parade Tandai Pergantian Kapolda Riau
- DPRD Meranti Panggil Sejumlah OPD, Bahas Persoalan Pergaulan Remaja dan Perlindungan Anak
- Siompu Kampar Riau Tampilkan Parade Manjujuong Dulang dan Baju Bakuduong
- H. Ian Machyar Terpilih Aklamasi sebagai Ketua BPC Perhumas Pekanbaru Periode 2026-2029
Rusia Terperosok Jurang Resesi Imbas Perang Ukraina

VokalOnline.Com- Rusia resmi jatuh ke jurang resesi ekonomi setelah sembilan bulan menggempur Ukraina. Produk domestik bruto (PDB) Rusia tercatat turun 4 persen pada kuartal III 2022.
Data PDB tersebut diambil dari perkiraan awal Badan Statistik Nasional Rosstat. Hal serupa juga terjadi pada kuartal kedua, dengan kata lain Rusia secara teknis sudah memenuhi definisi resesi di mana dua kuartal berturut-turut mengalami penurunan PDB.
Kendati demikian, kontraksi output ekonomi Rusia antara Juli hingga September 2022 masih lebih rendah dari perkiraan banyak analis sebesar minus 4,5 persen di negara pimpinan Vladimir Putin tersebut.
Kontraksi didorong oleh penurunan perdagangan grosir sebesar 22,6 persen serta penurunan perdagangan ritel sebanyak 9,1 persen. Di lain sisi, sektor konstruksi masih tumbuh 6,7 persen dan pertanian naik 6,2 persen.
"Situasinya terus memburuk, tidak mengherankan. PDB (Rusia) bisa berkontraksi lebih tajam, hingga tujuh persen pada kuartal keempat," kata Direktur Investasi Locko Invest kepada AFP, Kamis (17/11).
Saat Rusia membombardir Ukraina, negara mereka 'digempur' dari sisi ekonomi oleh negara Barat. Beragam sanksi membebani Rusia yang kini terseok-seok dalam hal ekspor dan impor, termasuk komponen manufaktur utama dan suku cadang.
Menurut kantor Boris Titov, komisaris presiden untuk pengusaha, sekitar sepertiga dari 5.800 perusahaan Rusia yang disurvei baru-baru ini mengalami penurunan penjualan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 8 November, Bank Sentral Rusia memperkirakan produk domestik bruto akan berkontraksi sebesar 3,5 persen tahun ini. IMF dan Bank Dunia masing-masing memperkirakan penurunan PDB Rusia sebesar 3,4 persen dan 4,5 persen.
Gubernur Bank Sentral Rusia Nabiullina mengatakan pekan lalu bahwa sanksi Barat sangat kuat dan memperingatkan dampaknya terhadap ekonomi Rusia dan global tidak boleh diremehkan.**Syafira
Berita Terkait :
- Rupiah Lunglai ke Rp15.671 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI0
- Jokowi Kembali Blusukan ke Pasar usai Tutup KTT G200
- Harga Emas Bisa Tembus Rp1 juta per Gram Akhir Tahun0
- Harga Kripto Kompak Kebakaran0
- Jokowi: 2,9 Miliar Orang di Dunia Tak Terhubung Internet0
_Black11.png)








