- Konflik Agraria Inhu Petani Sungai Raya dan Sekip Hilir, Adian Napitupulu: Jangan Tekan Masyarakat
- RSUD Tengku Sulung Ajak Semua Elemen Beri Dukungan Pemulihan untuk Korban Kebakaran Pulau Kijang
- Polda Riau Kukuhkan 23 Duta Anti Narkoba, Kapolda: Panipahan Jadi 'Wake-Up Call' Bersama
- Polres Meranti Berhasil Ciduk Oknum Guru Pencabulan Anak di Bawah Umur
- Pilkades Meranti 2026–2027 Digelar, Dinas PMD Ajak Warga Tak Takut Maju Jadi Kepala Desa
- Bupati Meranti Teken Kerja Sama dengan IBT Pelita Indonesia, Dorong SDM Unggul Berbasis Teknologi
- Kejari Meranti Kembali Gadangkan Program Jaksa Masuk Sekolah
- Kejari Meranti Tingkatkan Pelayanan Disiplin Semua Jaksa Lengkap
- BPS Meranti Lakukan Mutahir Data Sukseskan Sensus Ekonomi Tahun 2026
- Tidak Terlalu Mewah SMK Buat Perpisahan Sederhana Sesuai Aturan Pemerintah
Kapolda Riau Sebut Kurir Narkoba Dalam Negeri Tidak Jujur, Ini Contohnya

Barang bukti narkoba. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Sudah ratusan kilogram narkoba jenis sabu dan puluhan ribu butir pil ekstasi gagal beredar di Provinsi Riau. Racun kegembiraan semu itu selalu masuk di wilayah perairan pesisir, seperti Kota Dumai dan Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis karena berbatasan langsung dengan Malaysia.
Kepala Polda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi mengakui narkoba itu dibawa dari luar negeri. Hanya saja tidak diketahui di negara mana barang haram diproduksi.
Menurut Agung, narkoba masuk ke Indonesia itu bisa saja dari negara di Timur Tengah, Afganistan, Myanmar ataupun Malaysia. Bandar narkoba di Indonesia punya jaringan ke negara tersebut.
"Untuk memastikan dari negara mana, prosedurnya kami kirim sampel ke Mabes Polri, nanti Direktorat Reserse Narkoba Mabes yang menindaklanjuti karena yuridiksi kami di Riau," kata Agung, Rabu siang, 24 Maret 2021.
Terlepas dari mana asalnya, bandar narkoba biasanya menggunakan kurir dengan upah menggiurkan. Kurir itu bisa berasal dari Malaysia dan membawa narkoba ke tengah laut lalu diterima kurir dari Indonesia.
Tak jarang, nelayan ataupun masyarakat tempatan di Bengkalis ataupun Kota Dumai dimanfaatkan. Biasanya warga mau menjadi kurir karena faktor ekonomi.
"Mau karena iming-iming sehingga menjadi bagian dari peredaran narkoba di Riau," ucap Agung didampingi Kabid Humas Komisaris Besar Sunarto dan Direktur Reserse Narkoba Komisaris Victor Siagian.
Agung menyebut kemasan sabu dari luar negeri juga beragam bentuk. Namun ada yang membedakan antara satu kemasan dengan lainnya dilihat dari kerapian.
Menurut Agung, kemasan narkoba yang dibawa kurir dari luar lebih rapi. Beda dengan kemasan narkoba yang dibawa warga tempatan karena biasanya sudah dicongkel.
"Kurir orang luar negeri lebih rapi sementara kurir orang dalam negeri tidak rapi, ada yang dicongkel. Kurir dalam negeri itu tidak jujur," seloroh Agung.
Terkait memanfaatkan masyarakat tempatan itu, Agung menghimbau tokoh agama hingga tokoh ada menjaga anak kemenakan agar tidak mau menjadi kaki tangan bandar narkoba.
"Mengajak bersama-sama menjaga lingkungan dari iming-iming narkoba ini," kata Agung. (syu)
Berita Terkait :
- Polda Riau Musnahkan 80 Kilogram Sabu0
- Polisi Tangkap Pengusaha Travel Meski Sudah Berangkatkan Orang Umrah, Kenapa?0
- Kejari dan BPR Pekanbaru Jalin MoU Tingkatkan Pendapatan Daerah0
- Zufra Irwan: KONI se-Riau Dalam Bahaya0
- Polisi Usut Penggelapan Dana Miliaran Rupiah di Universitas Pasir Pangaraian0
_Black11.png)









