- Perkuat Sinergi dengan Masyarakat, PT PAS Mitra Agrinas Perbaiki Jalan Desa
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Perebutkan Piala Plt Gubernur, Dibuka Sabtu Besok
- Hendry Munief Dorong RUU Kawasan Industri Wajibkan Pendampingan UMKM dan IKM
- Rekor Berlanjut: MAN 1 Pekanbaru Jadi Penyumbang Peserta OSN Nasional Terbanyak dari Riau
- Pemko Pekanbaru Perjuangkan Hibah Aset Pemerintah Pusat Jadi Barang Milik Daerah
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Siap Digelar, Wasit dan Juri Ikuti Briefing
- Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Siap Digelar, Panitia Pastikan Persiapan Matang
- Sahabat Lingkungan Hidup Riau Jadi Mitra Strategis Menteri LH, Siap Perkuat Kolaborasi Jaga Bumi
- Pangeran Fortuna Bikin Kejutan, Olang Buas Tersingkir di Hari Pertama Pacu Jalur
- Sinergitas Kantor Pertanahan, Bapenda, dan IPPAT Kabupaten Rokan Hulu Perkuat Transformasi Layanan P
Puluhan Kerbau di Kampar Mati Mendadak
>Penyakit Sapi Ngorok Menyebar Luas

Salah satu kerbau mati di kubangan secara mendadak di Kabupaten Kampar.
PEKANBARU, VokalOnline.Com -Penyakit Septicaemia epizootica atau sapi ngorok di Kabupaten Kampar meluas. Dari awalnya yang ditemukan di Kecamatan XIII Koto Kampar, penyakit yang menyebabkan kerbau mati dengan cepat ini ditemukan di Kecamatan Tambang dan Kecamatan Kampa.
Video kerbau mati diduga karena penyakit sapi ngorok di dua kecamatan tersebut sudah beredar di media sosial. Video itu memperlihatkan puluhan kerbau mati di kubangan serta kebun sawit.
Dalam video itu, kerbau mati mengeluarkan darah dari mulut. Kerbau yang mati terlihat gemuk sehingga diduga tidak ada penyakit lainnya yang diidapnya selain sapi ngorok.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan Provinsi Riau, Faralinda Sari, membenarkan adanya temuan sapi ngorok di dua kecamatan tersebut. Hanya saja dia mengaku belum mendapatkan data pasti.
"Saya masih menunggu informasi dari Kampar," kata Faralinda, Senin siang, 26 September 2022.
Menurut Faralinda, meluasnya penyakit ini karena dugaan perpindahan kerbau dari kecamatan sebelumnya ke kecamatan lain. Pasalnya di Kecamatan XIII Koto Kampar ada aksi jual beli secara besar-besaran setelah kasus sapi ngorok memakan korban.
"Kerbau dijual dengan harga murah dan dibawa ke beberapa lokasi, ini yang diduga menjadi penyebab," ujar Faralinda.
Untuk mencegah penyakit ini meluas, tambah Faralinda, salah satu jalannya adalah vaksinasi. Hanya saja, peternak di Riau masih rendah keinginan untuk memberikan vaksin kepada ternak.
Salah satu alasan rendahnya keinginan vaksin karena penyakit seperti ini terbilang jarang. Padahal ketika mewabah, tingkat kematiannya kepada ternak adalah 90 persen.
"Penyakit seperti ini berpotensi terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu, di sana banyak kerbau," jelas Faralinda.
Sebagai antisipasi tidak menyebar, Faralinda menghimbau peternak membuat kandang untuk ternak. Peternak dihimbau tidak melepaskan kerbau dan sapi di padang rumput.
"Potensi penularan di padang rumput sangat besar," tegas Faralinda. (syu)
Berita Terkait :
- Polda Riau Tangkap Pengoplos Gas Elpiji0
- Kajati Riau Berikan Tausiah Kepada Pegawai0
- PWI Riau Kembali Gelar UKW Gratis untuk 7 Kelas 0
- Polwan Penganiaya Warga Dipenjarakan0
- PT RAPP Kembali Gelar ToT Fasda 0
_Black11.png)









