- Hendry Munief Apresiasi Kebijakan Presiden Prabowo Perkuat Ekonomi Kerakyatan
- KNPI Inhil: Memaknai Merdeka dengan Berbuat dan Tetap Kondusif
- Bertahun-tahun Konflik Agraria Petani dengan PT SBP, Ini Kata Bupati Ade
- Peringati HUT ke-81 RI, PLN Grup Regional Riau Perkuat Semangat Kebersamaan dan Kepedulian
- Peduli Kegiatan Keagamaan, PT PAS Mitra Agrinas Salurkan Dukungan untuk MTQ Danau Rambai
- Desentralisasi Asimetris Berbasis Klaster: Solusi Pemerataan Pembangunan Daerah di Indonesia
- Panitia Kejurprov Karate FORKI Riau 2026 Gelar Rapat Terbatas, Pastikan Kesiapan Pertandingan
- Jelang Pacu Jalur 2026, Pemkab Kuansing Desak Penertiban PETI di Hulu Sungai Kuantan
- Plt Bupati Kuansing Tinjau Kesiapan Tepian Narosa Jelang Festival Pacu Jalur Nasional 2026
- Festival Pacu Jalur 2026 Siap Digelar, Plt Bupati Kuansing Ajak Masyarakat Sukseskan Pesta Rakyat
AS Ketar-ketir Putin Bersiap Uji Coba Rudal Nuklir Rusia

VokalOnline.Com -- Rusia berencana menggelar uji coba rudal nuklir dalam waktu dekat. Amerika Serikat mengaku telah diberitahu oleh Moskow terkait rencana tersebut.
AS memprediksi latihan tahunan yang disebut "Grom" ini akan meliputi uji coba rudal nuklir strategisnya. Rusia tercatat pernah menguji coba rudal balistik antar-benua di masa lalu.
Di bawah perjanjian nuklir START Baru, Rusia berkewajiban memberikan pemberitahuan sebelumnya tentang segala jenis uji coba rudal nuklir kepada AS.
"AS telah diberitahu, dan, seperti yang telah kami soroti sebelumnya, ini adalah latihan rutin tahunan oleh Rusia," kata juru bicara Angkatan Udara AS, Brigadir Jenderal Patrick Ryder dalam jumpa pers di Washington pada Selasa (25/10).
Ryder menolak memberikan rincian lebih lanjut soal notifikasi itu dan juga detail uji coba senjata nuklir Negeri Beruang Merah tersebut.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price menekankan Rusia wajib patuh terhadap persyaratan pemberitahuan dalam melakukan uji coba rudal nuklir. Menurutnya pemberitahuan penting agar miskalkulasi dan salah presepsi bisa dihindari karena dapat memicu konflik terbuka.
"Sementara Rusia terlibat dalam agresi tak beralasan dan retorika nuklir sembrono, langkah-langkah pemberitahuan ini memastikan kami tidak terkejut dan mengurangi risiko salah persepsi," kata Price.
Latihan Rusia ini memunculkan tantangan potensial bagi AS dan sekutunya. Sebab, Presiden Rusia Vladimir Putin terus melontarkan ancaman akan menggunakan senjata nuklir untuk membela wilayah Ukraina yang dicaplok Rusia jika benar-benar diperlukan.
Rusia juga menuduh Ukraina bersiap menggunakan "bom kotor" di wilayahnya sendiri di depan Dewan Keamanan PBB. Tuduhan Moskow itu ditolak mentah-mentah oleh Barat dan Ukraina.
Barat menilai tuduhan Rusia itu sebagai misinformasi dengan dalih meningkatkan eskalasi perang.
Dilansir Reuters, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan tuduhan penggunaan bom kotor menunjukkan niat Rusia merencanakan serangan dengan bahan peledak serupa hingga senjata nuklir "taktis" dengan risiko kerusakan lebih rendah dari nuklir biasanya.
Presiden AS Joe Biden mewanti-wanti Rusia bahwa penggunaan senjata semacam itu akan menjadi "kesalahan yang sangat serius".
"Saya tidak menjamin Anda bahwa ini adalah operasi bendera palsu, kami tidak tahu. Tapi itu akan menjadi kesalahan serius," kata Biden.**Syafira
Berita Terkait :
- Benfica Pembunuh Raksasa: Barcelona dan Juventus Jadi Korban0
- Rishi Sunak, Anak Imigran Tajir yang Ingin Batasi Pendatang ke Inggris0
- Asrafaber: Penolakan Bank Syariah Karena Alasan Politis0
- Socrates0
- Inilah 5 Presiden Termiskin di Dunia, Tolak Uang Pensiun Sampai Ada yang Tidur di Gubuk Reyot0
_Black11.png)









